Hari itu hari Rabu. Dari pagi entah kenapa udah filing-filing kagak mau masuk gambar konstruk -_- udah rabu kemaren kita disuruh gambar robot (entah Gundam, entah Transformer, entah Odong-odong) terus minggu ini kagak tau lah mau disuruh gambar apa lagi. Mungkin sepeda, atau pohon, gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera (oke, stop, seeeetttoopppp!)
Jadi dengan setengah hati saya masuk. Udah buru-buru naik ke studio, pake lari-larian, eh belum dateng dosen dan para asdosnya, ya udah leha-leha dulu di meja gambar. Dan datanglah Sang dosen (bukan, bukan Sang Mantan) Bicaranya bukan sepatah-dua patah lagi, dari jam setengah 10 sampai jam 11 cing! Bayangin! Kalah Obama kalo pidato -_- Akhirnya dia menyudahi 'story telling' itu dengan sebuah kalimat sakti.. "Kalian penasaran kan kita mau menggambar apa kali ini?" dengan senyum misterius, dia pergi menuju ruang dosen. Semua anak hanya terdiam, ada yang ayan beberapa. Dan dalam hitungan detik (kira-kira 300 detik) ia kembali lagi dengan membawa.. termos.
TERMOS
T to the E to the R to the M to the O to the S
"Kita akan menggambar termos."
TIDAAAAAKKKKKKKKKKKKKK AKULAAAH SANG MANTAAAAN AKULAAAAH SANG MANTAAAAANNNNNN
Akhirnya dengan modal pengsil 2B, HB dan otak seadanya, saya mulai menggambar.
Tutup termos, mirip kayak kepingan tajoz (tau tajoz kan? hadiah dari Chiki, Cheetoz dan Jet-Z pas jaman dulu)
Badan termos, ngalahin badan Miyabi (baca: bertetek besar, berpinggang kecil, diameter 5 mili)
Dasar termos, mengembang. Kayak pizza yang direndem dua hari dalam minyak (LU SANGKA KARET?!)
dan setelah saya merasa dipuaskan (LOH?!) saya mencoba mengumpulkan ke salah seorang asdos. Begini kronologinya:
Saya : "Kak, kalo mau ngumpulin teh dimana?" (bukan, bukan ngumpulin teh, maksudnya aksen sunda)
Asdos : "Emang udah selesai?"
Saya : (dengan sombong dan berdada besar) "UDAH DOOOONNNGGGGZZZZZZXXXXX"
Asdos : "Mana sini saya liat!" (menarik kertas saya)
karena merasa harga diri gambar saya terancam, dengan sigap saya tarik kembali sambil berteriak "TIDAAAAKKKKKK! ENGGAK JADI NGUMPUUULLLLLL" dan berlari menjauhi asdos yang ikut berteriak "HEEEEEHHH GIMANA SIIIHHHHH?!!!!"
Dengan cepat saya masuk ke kerumunan, dan menggosip. "Gila, gambar gua mau diliat sama asdos, apa pula apa pula!"
saat sedang asyik 'menjelek-jelekan gambar sendiri' tiba-tiba ada sebuah tangan kekar menarik gambar saya "Mana sini saya lihat.." suaranya mendayu-dayu bagai rayuan pulau kelapa, dan saat saya membalikkan wajah, ternyata, dia adalah..
KAK AJI. DOSEN GAMBAR KONSTRUK.
"EEHHH TIDAK TIDAAAAKKK"
saya berusaha menarik gambar saya
"MANA SINI LIAAAATT"
ia balas menarik
"BANG, JANGAN BANG, AMPUN BANG, JANGAN BANG. JANGAN BANG, BANG, BAAAANNNGGGGG!!!!!"
saya memelas dengan nada kayak orang mau diperkosa.
Ketakutan. Saya belum pernah setakut itu sebelumnya.
Usaha saya gagal. Gambar saya berada dalam kekuasaannya. Lalu dengan perlahan, dia membuka gambar saya..
"APAAN NIH?! TERMOS ATAU ROK IBU-IBU?!!!!"
Ia menunjuk ke bagian dasar termos yang melebar. Saya membela diri.
"TAPI KAN ITU EMANG MELEBAR, KAK!"
"TAPI KAN GAK SELEBAR INI!"
TAPI-TAPI-TAPI-TAPI"
"UDAH SANA, BENERIN DULU! MASIH ADA SATU JAM INI!"
dengan langkah gontai karena gagal memenangkan pertandingan, saya kembali. Aku pulang, tanpa dendam.
Dan saat sadar, saya melihat sekeliling, ORANG-ORANG PADA NGETAWAIN GUA!
"Mel, sorry banget nih ya aku ketawa sampai nangis!"
Fine, Nawangwulan, nangis lah kamu sebelum kamu ditangisi -___-
Dan kalian tau apa? Besoknya saya kena gondong. Mungkin karena saya gondok dengan gambar konstruk. Fine. Fine.
PERGILAH KE NERAKA, AZAB MENANTIMU WAHAI TERMOS!
Jadi dengan setengah hati saya masuk. Udah buru-buru naik ke studio, pake lari-larian, eh belum dateng dosen dan para asdosnya, ya udah leha-leha dulu di meja gambar. Dan datanglah Sang dosen (bukan, bukan Sang Mantan) Bicaranya bukan sepatah-dua patah lagi, dari jam setengah 10 sampai jam 11 cing! Bayangin! Kalah Obama kalo pidato -_- Akhirnya dia menyudahi 'story telling' itu dengan sebuah kalimat sakti.. "Kalian penasaran kan kita mau menggambar apa kali ini?" dengan senyum misterius, dia pergi menuju ruang dosen. Semua anak hanya terdiam, ada yang ayan beberapa. Dan dalam hitungan detik (kira-kira 300 detik) ia kembali lagi dengan membawa.. termos.
TERMOS
T to the E to the R to the M to the O to the S
"Kita akan menggambar termos."
TIDAAAAAKKKKKKKKKKKKKK AKULAAAH SANG MANTAAAAN AKULAAAAH SANG MANTAAAAANNNNNN
Akhirnya dengan modal pengsil 2B, HB dan otak seadanya, saya mulai menggambar.
Tutup termos, mirip kayak kepingan tajoz (tau tajoz kan? hadiah dari Chiki, Cheetoz dan Jet-Z pas jaman dulu)
Badan termos, ngalahin badan Miyabi (baca: bertetek besar, berpinggang kecil, diameter 5 mili)
Dasar termos, mengembang. Kayak pizza yang direndem dua hari dalam minyak (LU SANGKA KARET?!)
dan setelah saya merasa dipuaskan (LOH?!) saya mencoba mengumpulkan ke salah seorang asdos. Begini kronologinya:
Saya : "Kak, kalo mau ngumpulin teh dimana?" (bukan, bukan ngumpulin teh, maksudnya aksen sunda)
Asdos : "Emang udah selesai?"
Saya : (dengan sombong dan berdada besar) "UDAH DOOOONNNGGGGZZZZZZXXXXX"
Asdos : "Mana sini saya liat!" (menarik kertas saya)
karena merasa harga diri gambar saya terancam, dengan sigap saya tarik kembali sambil berteriak "TIDAAAAKKKKKK! ENGGAK JADI NGUMPUUULLLLLL" dan berlari menjauhi asdos yang ikut berteriak "HEEEEEHHH GIMANA SIIIHHHHH?!!!!"
Dengan cepat saya masuk ke kerumunan, dan menggosip. "Gila, gambar gua mau diliat sama asdos, apa pula apa pula!"
saat sedang asyik 'menjelek-jelekan gambar sendiri' tiba-tiba ada sebuah tangan kekar menarik gambar saya "Mana sini saya lihat.." suaranya mendayu-dayu bagai rayuan pulau kelapa, dan saat saya membalikkan wajah, ternyata, dia adalah..
KAK AJI. DOSEN GAMBAR KONSTRUK.
"EEHHH TIDAK TIDAAAAKKK"
saya berusaha menarik gambar saya
"MANA SINI LIAAAATT"
ia balas menarik
"BANG, JANGAN BANG, AMPUN BANG, JANGAN BANG. JANGAN BANG, BANG, BAAAANNNGGGGG!!!!!"
saya memelas dengan nada kayak orang mau diperkosa.
Ketakutan. Saya belum pernah setakut itu sebelumnya.
Usaha saya gagal. Gambar saya berada dalam kekuasaannya. Lalu dengan perlahan, dia membuka gambar saya..
"APAAN NIH?! TERMOS ATAU ROK IBU-IBU?!!!!"
Ia menunjuk ke bagian dasar termos yang melebar. Saya membela diri.
"TAPI KAN ITU EMANG MELEBAR, KAK!"
"TAPI KAN GAK SELEBAR INI!"
TAPI-TAPI-TAPI-TAPI"
"UDAH SANA, BENERIN DULU! MASIH ADA SATU JAM INI!"
dengan langkah gontai karena gagal memenangkan pertandingan, saya kembali. Aku pulang, tanpa dendam.
Dan saat sadar, saya melihat sekeliling, ORANG-ORANG PADA NGETAWAIN GUA!
"Mel, sorry banget nih ya aku ketawa sampai nangis!"
Fine, Nawangwulan, nangis lah kamu sebelum kamu ditangisi -___-
Dan kalian tau apa? Besoknya saya kena gondong. Mungkin karena saya gondok dengan gambar konstruk. Fine. Fine.
PERGILAH KE NERAKA, AZAB MENANTIMU WAHAI TERMOS!




katanya mirip tompi pak dosennya. hahaha
BalasHapus